September 25, 2012

 Versi materi oleh Eni A dan Tri H


Bagaimana cara pengukuran jarak pada peta - Berapakah luas halaman sekolahmu? Untuk mengetahuinya tentu kamu harus mengetahui panjang dan lebarnya terlebih dahulu. Cobalah melakukan pengukuran secara berkelompok. Kamu cukup memerlukan meteran gulung dan tongkat sebagai penanda untuk melakukan kegiatan ini. Apabila jarak antara dua titik yang akan diukur lebih panjang dari alat ukurnya, maka ada dua tahapan, yaitu pelurusan pembanjaran dan pengukuran.



Pengukuran dapat dilakukan setelah pembanjaran dilakukan.


1. Pembanjaran

Dalam pembanjaran paling tidak diperlukan sedikitnya empat buah yalon dan beberapa buah patok. Yalon dapat dibuat dari kayu ataupun logam dengan ukuran panjang 2–3 meter yang dicat merah berselang putih atau putih berselang hitam. Pembanjaran dilakukan oleh dua orang, seorang membidik, sementara itu satu orang lagi menancapkan yalon sesuai dengan komando si pembidik. Agar kamu lebih jelas, perhatikan gambar berikut.




Pada saat pembanjaran dilakukan, sering terjadi beberapa hambatan seperti adanya bangunan yang menghalangi pengukuran, seperti rumah dan lain-lain. Agar kamu lebih jelas, perhatikan contoh gambar berikut.




Guna mengukur garis AB yang terhalang rintangan, dilakukan pengukuran secara bertahap. Untuk membuat garis lurus AB diperlukan garis pertolongan XY yang sejajar. Selanjutnya, ditentukan titik P dan Q di antara XY dengan syarat sudut AXP = sudut BYQ = 90°. Pembuatan sudut siku-siku ini dilakukan dengan cara memperpanjang garis AX dan BY. Dari titik X dan Y masing-masing ditentukan dua titik yang sama panjang ke arah kanan dan kiri. Dari kedua titik ini pula dibuat dua buah busur yang berpotongan di titik P dan Q. Apabila XPQ dan PQY lurus, berarti posisi titik X dan Y sudah benar.

Hambatan lain dapat ditemukan ketika pembanjaran dilakukan, yaitu kondisi lapangan yang bergelombang. Seperti berbatasan dengan tebing yang curam atau dengan dua tembok yang tinggi. Dalam kondisi seperti ini tidak mungkin pembidik membidik di balik yalon yang ditancapkan pada batas areal yang diukur. Bagaimana melakukannya? Ya, pekerjaan ini dapat dilakukan secara bertahap. Agar kamu mengetahui lebih jelas bagaimana pembelajaran dilakukan, perhatikan gambar berikut dan penjelasannya.





Tahap awal dilakukan dengan menancapkan yalon di atas titik A dan B. Kemudian menancapkan dua buah yalon lain sebagai yalon bantu (P dan Q) dan yalon gerak (P1, P2, dan Q1, Q2). Pekerjaan bisa dimulai dengan menancapkan yalon Q di antara AB. Dalam menancapkan yalon Q petugas harus dapat melihat dengan jelas yalon A. Petugas membidik dari belakang yalon Q ke arah yalon A, sementara petugas yang lain menancapkan yalon B di antara dan segaris dengan AQ (sesuai dengan perintah si pembidik). Selanjutnya, petugas di titik P membidik ke arah titik B dan mengamati apakah yalon Q sudah satu garis lurus dengan PB. Jika

belum, petugas lain harus memindahkan yalon Q ke posisi yang lurus dengan garis PQ sesuai dengan perintah pembidik. Langkah ini diulangi lagi hingga diperoleh hasil PQB satu garis lurus, demikian juga QPA juga satu garis lurus. Keadaan ini menunjukkan bahwa APQB sudah terletak pada satu garis lurus. Jika jarak AP, PQ, dan QB tidak terjangkau oleh alat ukur yang ada, maka perlu dilakukan pembanjaran lagi.



2. Pengukuran

Pengukuran dengan peralatan canggih kini banyak dilakukan. Namun demikian, hal tersebut tidak langsung membuat peralatan kuno tidak difungsikan lagi. Dengan beberapa pertimbangan, peralatan kuno ini masih digunakan, seperti areal yang sempit, datar, dan mudah karena lebih praktis dan efisien. Demi keakuratan peta, beberapa teknik pengukuran harus diterapkan.

Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pengukuran, yaitu:
a. Menentukan terlebih dahulu batas-batas areal yang akan diukur.
b. Pemilihan satu atau lebih garis ukur yang akan digunakan sebagai patokan pengukuran terhadap titik-titik yang lain. Garis ini akan memberikan kemudahan dalam pengukuran.
c. Letak garis ukur harus dekat dengan kenampakan-kenampakan yang akan diukur dan tidak menimbulkan offset yang panjang.
d. Membuat sketsa yang jelas sebelum melakukan. Hal ini akan membantu dan memudahkan pekerjaan.

Informasi di atas memberikan gambaran langkah-langkah teknis yang ditempuh sebelum melaksanakan pengukuran. Langkah-langkah teknis pengukuran bisa berbeda-beda tergantung bagaimana kondisi wilayah yang diukur, ada wilayah dengan bentuk teratur, ada pula wilayah dengan batas yang kompleks.


a. Wilayah dengan Batas yang Teratur dan Sederhana
Contoh pengukuran pada wilayah dengan batas yang teratur dan sederhana dapat kamu cermati pada gambar di bawah





Apabila wilayah yang akan diukur seperti pada gambar, maka langkah tepat yang diambil, yaitu dengan menarik garis AC. Dengan demikian, wilayah dibagi menjadi dua wilayah segitiga. Langkah pertama mengukur AC, selanjutnya mengukur jarak-jarak AD, CD, dan AB.

Setelah pengukuran, pekerjaan selanjutnya menggambarkan hasil pengukuran pada kertas. Penggambaran pada kertas dimulai dengan menentukan skala terlebih dahulu. Selanjutnya, penggambaran hasil pengukuran dimulai dari garis ukur AC. Kemudian dengan


menggunakan jangka digambar busur-busur AD, CD, AB, dan BC. Perpotongan antara busur AD dan CD merupakan titik D, sedang perpotongan antara busur AB dan BC merupakan letak titik B. Mudah bukan? Memang dalam penggambaran hasil pengukuran ini, kamu diminta menerapkan ilmu matematikamu.


b. Wilayah dengan Batas yang Tidak Teratur
Contoh pengukuran pada wilayah dengan batas yang tidak teratur seperti gambar di samping. Pada wilayah seperti ini dibutuhkan pengukuran yang lebih banyak, diperlukan beberapa garis ukur yang digunakan sebagai patokan pengukuran terhadap kenampakan batas areal. AB, BC, dan AC merupakan garis ukur yang digunakan. Untuk memperoleh ketelitian yang tinggi, pada batas wilayah yang tidak teratur (berlekuk) ditarik garis offset, yaitu garis yang tegak lurus terhadap garis ukur. Garis offset ini tidak boleh terlalu panjang agar ketelitian tetap terjaga.

garis offset yang harus diukur tergantung pada perbedaan bentuk batas wilayah dan tingkat ketelitian yang diinginkan. Penentuan offset yang akan diukur (a1, a2, a3, dan seterusnya) berdasarkan perubahan lebar yang mempunyai perbedaan tajam. Nah, apa yang kamu lakukan itu tahap awal dari proses pembuatan peta. 

Bagaimana menggambarkan halaman sekolahmu pada selembar kertas? Tentu saja kamu tidak bisa menggambarkan dengan ukuran sebenarnya. Oleh karena itu, kamu harus menentukan skalanya terlebih dahulu. Sebagai contoh, panjang halaman sekolahmu 47 meter dan lebarnya 26 meter. Kamu dapat menentukan skala 1 : 200.

Dengan skala itu, berapa panjang dan lebar halaman sekolah yang harus kamu gambar di kertasmu? Perbandingan hasil pengukuran dengan skala merupakan hal yang penting dalam pembuatan peta. Oleh karena itu harus ada keterpaduan antara skala peta yang akan disajikan dengan media yang digunakan untuk menggambarkannya.


0 komentar:

Post a Comment