May 26, 2012


Versi materi oleh Triyono Suwito dan Wawan Darmawan yang diedit Social Science



Singasari

Singasari didirikan sekitar tahun 1222 M oleh Ken Arok. Ini berawal dari keberhasilan Ken Arok menggulingkan Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Akuwu ini jabatan yang diperkirakan setara dengan lurah sekarang. Setelah Ametung dibunuh, Ken Arok kemudian menggantikan jabatan akuwu tersebut. Perlu diketahui, untuk membunuh Ametung, Ken Arok menggunakan keris buatan Mpu Gandring. Namun, nasib Mpu Gandring pun naas: ia dihabisi Ken Arok dengan keris buatannya sendiri, sebelum digunakan Ken Arok membunuh Ametung.


Setelah mengalahkan Kertajaya dalam pertempuran di Desa Ganter, Ken Arok lalu menjadikan Tumapel sebagai basis kekuatan militernya guna menguasai Kediri yang ditinggal mati oleh rajanya. Kekosongan politik di Jawa Timur ini tak disia-siakan oleh Ken Arok. Ia pun memproklamasikan berdirinya kerajaan baru, Singasari. Janda Tunggul Ametung, Ken Dedes, kemudian dinikahi oleh Ken Arok; perkawinan ini menghasilkan seorang anak lelaki. Sebelum menikahi Ken Dedes, Arok pun memiliki istri bernama Ken Umang yang membuahkan putera bernama Tohjaya. Dari Ametung sendiri, Ken Dedes melahirkan putera bernama Anusapati.

Sumber sejarah yang memuat Singasari di antaranya adalah Negarakretagama dan Pararaton (Kitab RajaRaja). Kedua kitab ini berisi sejarah rajaraja Jawa hingga Singasari. Disebutkan bahwa rajaraja Majapahit adalah keturunan rajaraja Singasari seperti juga raja-raja Kediri dan Mataram Kuno. Selain kedua kitab tersebut, prasasti dan candi yang dibuat pada masa berdirinya Singasari menceritakan banyak hal tentang kehidupan masyarakat Singasari. Catatan dari Cina yang sejak abad pertama telah berhubungan dagang dengan kerajaankerajaan Jawa juga menjadi sumber sejarah Singasari yang penting.

Dalam Pararaton disebutkan rajaraja yang pernah memerintah Singasari adalah: Ken Arok (12221227), Anusapati (12271248), Tohjaya (1248), Ranggawuni (12481268), dan Kertanegara (12681292). Setelah menjadi raja, Ken Arok bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwahbumi. Dalam masa pemerintahannya, Singasari berkembang menjadi sebuah kerajaan yang besar. Namun pemerintahan Ken Arok tidak berlangsung lama, hanya lima tahun. Pada tahun 1227, Ken Arok dibunuh oleh anak tirinya yang bernama Anusapati. Abu jenazah Ken Arok kemudian disimpan di Candi Kagenengan di selatan Singasari. Setelah membunuh Ken Arok, Anusapati menggantikan kedudukannya sebagai raja.

Kekuasaan Anusapati berakhir pada 1248, ia dibunuh ketika sedang beradu ayam (Anusapati dikenal dengan kegemarannya beradu ayam). Yang membunuh Anusapati adalah orang suruhan Tohjaya. Tohjaya melakukan ini sebagai balas dendam atas kematian ayahnya, Arok. Anusapati kemudian dimakamkan di Candi Kidal, tenggara Malang.

Raja Singasari berikutnya adalah Tohjaya. Diceritakan bahwa banyak di antara para pejabat Singasari yang kurang simpati dengan Tohjaya karena ia bukan berasal dari keluarga istana, meskipun anak dari Ken Arok. Tohjaya memegang pemerintahan Singasari tidak lama. Ia dibunuh oleh anak dari Anusapati bernama Ranggawuni. Tohjaya kemudian dimakamkan di Katang Lumbang, selatan Pasuruan (Panarukan). Ranggawuni naik tahta Singasari dengan gelar Srijaya Wisnuwardhana. Dalam menjalankan pemerintahan, ia didampingi oleh Mahesa Campaka (cucu Ken Arok- Ken Dedes) yang bergelar Narasinghamurti. Campaka ini berperan sebagai ratu angabaya (wakil raja). Mereka memerintah bersamasama. Kepemimpinan mereka dilambangkan sebagai kerja sama Dewa Wisnu-Dewa Indra. Ranggawuni juga mengangkat putera sendiri, Kertanegara, sebagai Yuwaraja atau Kuwararaja (raja muda).

Pada tahun 1268, Ranggawuni wafat, abunya dimakamkan di dua tempat yaitu di Weleri dekat Blitar sebagai Dewa Siwa dan di Candi Jago sebagai Sang Buddha. Ia digantikan oleh putranya yang bernama Kertanegara yang bergelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Kertanegara berarti “pemersatu dua negara” karena ibunya merupakan puteri Kediri, sedangkan ayahnya (Ranggawuni) dari Jenggala.

Pada masanya, Singasari mencapai kejayaan. Dalam menjalankan pemerintahannya, Kertanegara dibantu oleh tiga orang mahamantri, yaitu rakryan i hino, rakryan i sirikan, dan rakryan i halu. Di bawah ketiga mahamantri ini terdapat pula tiga orang pejabat: rakryan apatih, rakryan demung, dan rakryan kanuruhan. Sementara soal keagamaan, diangkat pejabat yang disebut dharma dhyaksa ring kasogatan untuk urusan agama Buddha, sedangkan dharmadyaksa ring kasaiwan untuk umat Siwa.

Untuk mengatasi masalah dalam negeri, Kertanegara melakukan beberapa kebijakan. Di antaranya, ia mengganti atau memindahkan pejabatpejabat kritis terhadap kebijakan Raja yang tidak loyal kepadanya, seperti Patih Raganatha yang digantikan oleh Aragani. Demikian pula Arya Wiraraja yang dipindahkan ke Sumenep, Madura. Selain itu, Raja Kertanegara juga member penghargaan dan kedudukan yang terhormat kepada lawanlawan politiknya. Misalnya, Jayakatwang diangkat menjadi adipati Kediri, Ardaraja anak Jayakatwang dijadikan menantunya, serta Raden Wijaya keturunan Mahisa Cempaka juga dijadikan menantunya.

Di bawah Kertanegara, Singasari melakukan ekspansi luar negeri bernama Pamalayu tahun 1275, yakni sebuah invasi militer yang bertujuan menaklukkan daerah-daerah di Sumatera dan Semenanjung Melayu yang belum tunduk. Ekspedisi ini dipimpin oleh Kebo Anabrang. Dalam ekspedisi tersebut, kerajaan Melayu berhasil ditaklukkan pada tahun 1260. Sebagai bukti bahwa ia telah menaklukkan Kerajaan Melayu adalah ditemukannya patung Amoghapasha di Jambi, tepatnya di Padangroco di sekitar Sungai Langsat yang berangka tahun 1286. Dituliskan, patung Amoghapasha beserta 14 patung lainnya dikirim ke Swarnabhumi (Sumatera) dari Bhumijawa (Jawa) atas perintah Sri Kertanegara Wikrama Dharmottunggadewa. Ketika itu, ibukota Melayu berkedudukan Jambi. Dengan tunduknya Melayu, pengaruh budaya Jawa dari Singasari pun menyebar di Semenanjung Melayu dan Sumatera. Orang Melayu dan Sumatera pun mulai mengenal kisah-kisah pewayangan.

Pada tahun 1289, datang seorang utusan dari kaisar Cina Kubilai Khan, bernama Meng Chi, ke Singasari untuk mengakui kekuasaan Mongol. Keinginan Kubilai Khan itu ditolak oleh Kertanegara dengan cara merusak muka sang utusan, Meng Chi. Kubilai Khan tidak terima penolakan Kertanegara tersebut, lalu mengirimkan tentaranya ke Jawa untuk menghukum Kertanegara. Tetapi ketika tentara itu datang, Kertanegara sudah tidak berkuasa lagi.

Banyaknya pasukan Singasari yang ke Melayu menyebabkan pertahanan dalam negeri Singasari menjadi lemah. Hal ini dimanfaatkan oleh para musuh Kertanegara untuk merebut kekuasaan. Pada 1292, Jayakatwang dari Kediri menyerang Kertanegara. Dalam serangan Jayakatwang yang mendadak itu, Kertanegara bersama pembesar lainnya tewas. Namun, keempat putri Kertanegara dan menantunya, Raden Wijaya selamat. Jenazah Kertanegara kemudian dimakamkan di dua tempat, yaitu di sebuah candi di dekat Tretes, Malang, dan di Candi Singasari dekat Malang. Kertanegara diabadikan sebagai arca Joko Dolok.


Kehidupan Sosial-Ekonomi Masyarakat Singasari


Kehidupan politik kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha membawa perubahan baru dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Indonesia. Struktur sosial dari masa Kutai hingga Majapahit mengalami perkembangan yang ber-evolusi namun progresif. Dunia perekonomian pun mengalami perkembangan: dari yang semula sistem barter hingga sistem nilai tukar uang.

Sementara itu, kehidupan sosial Singasari dapat diketahui dari Nagarakretagama dan Pararaton serta kronik Cina. Disebutkan, masyarakat Singasari terbagi dalam kelas atas, yaitu keluarga raja dan kaum bangsawan, dan kelas bawah yang terdiri dari rakyat umum. Selain itu, ada kelompok agama, pendeta Hindu maupun rahib Buddha. Namun pembagian atas golongan ini tidak seketat pengkastaan seperti di India. Ini membuktikan, sekali lagi, kearifan lokal yang dimiliki masyarakat pribumi.

Dari Negarakretagama dan Pararaton diperoleh gambaran tentang kehidupan perekonomian di Jawa pada masa Singasari. Di desa pada umumnya penduduk hidup dari bertani, berdagang, dan kerajinan tangan. Tidak sedikit pula yang bekerja sebagai buruh atau pelayanan. Kegiatan berdagang dilakukan dalam lima hari pasaran pada tempat yang berbeda (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon). Oleh karena itu, sarana transportasi darat memegang peranan penting. Beberapa prasasti melukiskan bagaimana para pedagang, pengrajin, dan petani membawa barang dagangannya.

Mereka digambarkan melakukan perjalanan sambil memikul barang dagangannya atau mengendarai pedati-kuda. Ada pula yang melakukan perjalanan melalui sungai dengan menggunakan perahu. Dengan disebutnya alat angkut pedati dan perahu, dapatlah disimpulkan bahwa perdagangan antardesa cukup ramai.

Apalagi di wilayah Singasari terdapat dua sungai besar, Bengawan Solo dan Kali Brantas yang dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian dan lalu lintas perdagangan air. Perdagangan mulai mendapatkan perhatian cukup besar semasa Kertanegara memerintah. Kertanegara mengirimkan ekspedisi militer ke Melayu (Pamalayu) untuk merebut kendali perdagangan di sekitar Selat Malaka. Pada masa ini memang Selat Malaka merupakan jalur sutera yang dilalui oleh para pedagang asing.

1 komentar: