April 17, 2012


Versi materi oleh Dibyo S dan Ruswanto


Kelahiran ialah kemampuan seseorang wanita untuk melahirkan yang dicerminkan dalam jumlah bayi yang dilahirkan. Ada beberapa faktor yang mendukung kelahiran (pronatalitas) dan yang menghambat (antinatalitas).


a. Faktor-faktor Pronatalitas

Faktor-faktor pronatalitas antara lain sebagai berikut.

1) Kawin dalam usia muda atau di bawah umur, artinya kalau seorang wanita sudah kawin dalam usia muda, kesempatan reproduksi (melahirkan) lebih lama. Jadi, kesempatan mempunyai anak lebih banyak.

2) Rendahnya tingkat kesehatan. Banyaknya bayi yang meninggal
menyebabkan orang tua ada kecenderungan mempunyai banyak
anak. Jadi, bila ada yang meninggal masih ada cadangannya.

3) Suatu anggapan: ”banyak anak banyak rezeki”. Ini sebenarnya suatu mitos, yakni anggapan yang keliru.

4) Jaminan untuk hari tua ada yang merawat.

5) Masa-masa damai.


b. Faktor-faktor Antinatalitas

Faktor-faktor antinatalitas antara lain sebagai berikut.

1) Adanya ketentuan batas umur menikah. Di Indonesia, untuk wanita ditetapkan minimal umur 16 tahun, sedangkan untuk laki-laki batas minimal 19 tahun.

2) Adanya program pemerintah yang membatasi kelahiran. Di Indonesia, dengan program KB yang mulai dicanangkan pada tahun 1970, dengan semboyan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS), 2 anak cukup.

3) Adanya anggapan sebagian orang tua ‘orang tua modern’ bahwa anak mau tidak mau menjadi beban orang tua, lebih-lebih banyak anak.

4) Adanya pembatasan tunjangan anak, terutama bagi pegawai negeri.

5) Masa-masa perang.

2 komentar:

  1. aduh, di bagian "Ini sebenarnya suatu mitos, yakni anggapan yang keliru." itu ga pas deh. soalnya yang namanya mitos itu ada yang benar, jadi ga sepenuhnya salah. benar atau salah, itu cuma anggapan

    ReplyDelete
  2. Terimakasih kepada Mas Wahyu atas masukannya. Saya setuju dengan pendapat anda bila hanya mengacu pada kata "Mitos" itu sendiri. Akan tetapi konteks awal kita adalah mitos "Banyak anak banyak rezeki". Di sini saya berfikir apakah sudah ada bukti nyatanya, saya menuliskan anggapan itu keliru karena saya belum mendapati bukti nyatanya. Kembali kepada perkataan Mas Wahyu, "Benar atau salah, itu cuma anggapan" masing masing. Bila sudah kita dapati buktinya tentunya kita akan sependapat.

    ReplyDelete