May 13, 2012

Versi materi oleh Triyono Suwito dan Wawan Darmawan


1) Mahabharata
Mahabharata adalah epik India yang menceritakan pertikaian antara keturunan Raja Bharata dari Hastinapura, yakni Pandawa sebagai pihak kebaikan melawan pihak Kurawa sebagai pihak kebatilan. Pandawa (lima bersaudara) dan Kurawa (seratus bersaudara: 99 laki-laki, 1 wanita) adalah saudara sepupu dari garis ayah. Peperangan antara mereka dikenal dengan Bharatayudha (Peperangan antara keturunan Bharata), yang berlangsung di lapang Kurusetra dan dimenangkan pihak Pandawa. Meski menang, banyak saudara dan raja pembantu dari Pandawa yang gugur dalam perang.


Kitab Mahabharata dianggap sebagai kitab suci Weda ke-5 setelah Rigweda, Yajurweda, Samaweda, dan Atharwaweda. Mahabharata asli terdiri atas 100.000 seloka yang terbagi dalam 18 parwa (jilid atau buku).

Selain 18 parwa, adapula tambahan yang berjudul Hariwangsa yaitu cerita asal-usul Kresna (Krishna), sepupu Pandawa yang menjadi penasehat Pandawa dalam perang Bharatayudha. Kresna pula yang menyemangati Arjuna yang patah semangat untuk berperang melawan Kurawa karena ia harus berhadapan dan membunuh guru, leluhur, dan sanak-saudaranya sendiri. Nasihat Kresna kepada Arjuna ini termuat dalam episode Bhagawad Gita.

Di dalam Mahabharata ini banyak terdapat nama kerajaan yang memang ada di India secara historis, di antaranya Magadha dan Kalingga. Sebagai karya sastra tentunya karya ini berkaitan dengan kenyataan sehari-hari rakyat India ketika itu. Di dalam kitab tersebut tersimpan ajaran moral, etika politik, persaingan antarkeluarga dalam memperebutkan takhta, akibat keserakahan dan peperangan, hingga kisah asmara. Ditekankan pula bahwa seseorang harus berbakti kepada orangtua dan Negara meski untuk itu ia harus mengorbankan kepentingan pribadinya (seperti kisah Bisma). Dan yang pasti bahwa kasta ksatria adalah mereka yang dipilih dewa untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan di muka bumi.

2) Ramayana
Selain Mahabharata, adapula kitab lain yang dianggap suci oleh umat Hindu, yaitu Ramayana (Pengembaraan Rama), ditulis oleh Valmiki sekitar tahun 400 SM. Mungkin saja, Valmiki hanya menulis cerita intinya yang kemudian dikembangkan oleh para penulis lain hingga mencapai 24.000 bait puisi. Maka dari itu, tak heran bila ada tiga versi cerita Ramayana ini yang saling berbeda. Konon kisah Ramayana berlangsung dari tahun 500 SM hingga tahun 200 M.

Oleh orang Jawa, Ramayana digubah menjadi Kakawin Ramayana. Isi kakawin ini lebih pendek dari karya Valmiki. Nama tokoh-tokoh dan tempatnya ada yang berbeda, seperti Walin diganti menjadi Subali, Sita menjadi Sinta, Lanka menjadi Alengka,  Rawana menjadi Rahwana atau Dasamuka (Kepala Sepuluh). Yang pertama menggubah Ramayana menjadi kakawin adalah para pujangga Mataram, yaitu pada masa Dyah Balitung abad ke-9 dan 10 M. Ada ahli yang berpendapat bahwa kakawin ini digubah pertama kali pada abad ke-11 hingga 13 M, pada masa Kediri.

Menurut tradisi lisan, kakawin ini ditulis oleh seorang pujangga istana bernama Yogiswara. Selanjutnya pada masa Kediri dituliskan kitab-kitab lainnya, di antaranya Hariwangsa dan Gatotkaca Sraya karya Mpu Panuluh, Smaradhana karya Mpu Dharmaja, Lubdaka dan Wrtasancaya karya Mpu Tanakung, dan Kresnayana karya Mpu Triguna. Pada masa Majapahit ditulis sejumlah kitab, yaitu Negarakretagama karya Mpu Prapanca, Sutasoma karya Mpu Tantular, kitab Pararaton yang menceritakan riwayat raja-raja Singasari dan Majapahit, Kidung Sunda yang menceritakan Peristiwa Bubat, Ranggalawe yang menceritakan pemberontakan Ranggalawe, Sorandaka menceritakan pemberontakan Sora, serta kitab Usana Jawa yang menceritakan penaklukan Bali oleh Gajah Mada dan Arya Damar dari Majapahit.

3) Pararaton
Pararaton ditafsir selesai ditulis pada tahun 1287 Saka (1365 M). Pararaton menceritakan keadaan Jawa pada zaman Hindu hingga datangnya Islam. Disebutkan bahwa ada masa yang disebut zaman kaluthuk, yaitu masa jauh sebelum kedatangan orang India ke Nusantara (zaman prasejarah). Lalu, datanglah orang-orang dari negeri Kalingga, Celong (Sailan atau Sri Lanka), dan pesisir pantai Semenanjung Malaka dan Kamboja. Dituliskan pula bahwa pada zaman kuno telah terdapat bandar-bandar ramai, di antaranya Tunsun yang kemudian pindah ke Kalah (Kerah) di Malaka. Kedatangan orang-orang ke Jawa banyak dicatat dalam kronik- kronik Cina, yang ternyata banyak kesamaannya dengan isi Pararaton. Orang Hindu (India) datang ke Indonesia mengikuti arah angin yang ke tenggara. Dijelaskan pula rute-rute pelayaran dagang pada masa itu, dimulai dari Ambon, Banda, Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara), pantai utara Jawa, lalu menyusuri

Sumatera sebelah timur hingga di pesisir Semenanjung Malaya.  Dari Malaka ini rute dilanjutkan dan bertemu dengan jalur pelayaran dari Cina, yaitu Kanton (Katogara), Pulau Kondor, Lahore, Sanggora (Pattani). Bangsa India maupun Cina bila hendak pergi ke Molokus (Maluku atau Moluska) dari Bandar Kalah yang jaraknya cukup jauh, harus beristirahat dulu di Sumatera atau Jawa. Kedatangan orang Hindu ke Indonesia, begitu Pararaton menyebutkan, pertama kali sekitar abad ke-7 M. Selain masalah ekonomi, Pararaton menguraikan masalah keagamaan Hindu Siwa, Waisnawa, dan Brahma; serta menjelaskan bahwa Hindu pun berkembang di Madura, Bali, Sumatera, Kalimantan, Maluku, Sumbawa, selain di Tanah Jawa. Pararaton menerangkan jatuh-bangun kerajaan-kerajaan di Jawa, dari mulai Raja Sanjaya Mataram, kehidupan Ken Arok dalam mencapai takhta Singasari, usaha Raden Wijaya menipu tentara Kubilai Khan yang hendak menyerang Tumapel, raja-raja Majapahit, peperangan antara Majapahit melawan Blambangan, hingga kedatangan orang-orang Islam di Jawa yang mulai merongrong kewibawaan Majapahit.

4) Negarakretagama
Negarakretagama ditulis Mpu Prapanca pada 1365 M. Oleh Prapanca kitab berbentuk kakawin ini disebut Desawarnana (Cacah Desa-Desa). Naskah Negarakretagama ditemukan di Lombok pada tahun 1894, yang oleh Brandes diterbitkan tahun 1902. Naskah ini cukup istimewa dibanding naskah-naskah Jawa Kuno lainnya yang selalu memakai bahasa yang indah. Negarakretagama banyak mengandung data sejarah secara eksplisit terutama tentang Majapahit. Kakawin Negarakretagama terdiri atas 98 pupuh (sejenis sajak yang dilagukan). Kebanyakan menceritakan keagungan Raja Hayam Wuruk sebagai penjelmaan Siwa dan Buddha. Juga terdapat keterangan mengenai kota, istana, keluarga istana Majapahit; perjalanan Hayam Wuruk ke Lumajang; kegiatan Raja berburu binatang di hutan, kehidupan Gajah Mada, silsilah rajaraja Singasari dan Majapahit, dan juga riwayat sang penulis kitab, Prapanca.

Prapanca mengakui bahwa ia pun menulis kitab-kitab lain seperti Parwasagara, Bhismasaranantya, Sugataparwa, dan dua karyanya yang belum selesai, Saba Abda dan Lambang. Namun, tak satu pun karya-karya tersebut berhasil diketemukan. Menurut Slamet Mulyana, sejarawan Indonesia yang juga mengalihbahasakan Pararaton yang berbahasa Kawi ke bahasa Indonesia, Prapanca sebenarnya nama samaran dari seorang dharmadyaksa ring kasogatan (rahib Buddha penasihat raja) di Majapahit yang bernama asli Dang Acarya Nalendra.

5) Arjuna Wiwaha
Kakawin lainnya adalah Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa yang ditulis dalam bahasa Kawi pada zaman Airlangga Raja Medang Kamulan. Kakawin ini ditulis sekitar tahun 941-964 Saka atau 1019-1042 Masehi. Dalam Arjuna Wiwaha ini, sosok Arjuna diibaratkan sebagai Airlangga. Karena populernya, cerita ini berkali-kali ditulis ulang dengan berbagai judul berbeda, misalnya Mintaraga atau Bagawan Ciptaning.

Arjuna Wiwaha (Perkawinan Arjuna) mengisahkan perjalanan Arjuna bersama Pandawa lainnya yang tengah menjalani hukuman pengasingan selama 12 tahun karena kalah bermain judi dadu dengan Kurawa. Di tengah perjalanan, Arjuna pergi sendirian untuk menjalani tapa-brata. Ketika bertapa, Arjuna didatangi oleh Dewa Indra, atas saran Dewa Siwa dari kahyangan, yang bertujuan meminta bantuan Arjuna untuk mengalahkan raja raksasa Niwatakawaca dari Kerajaan Manimantaka. Niwatakawaca sebelumnya berhasil menyerang kahyangan (swarga; tempat tinggal para dewa) karena ia menginginkan Dewi Supraba, seorang bidadari yang cantik, untuk diperistri.

Sebelum didatangi oleh Dewa Indra, mulanya Arjuna didatangi oleh tujuh bidadari kahyangan (di antaranya Dewi Supraba sendiri dan Nilotama) untuk menggoda tapanya. Karena tak berhasil dirayu para bidadari, akhirnya Dewa Indralah yang turun tangan. Singkat cerita, Arjuna yang telah dibekali panah Pasopati oleh Dewa Siwa mampu mengalahkan Raja Niwatakawaca. Setelah berhasil, Arjuna dinikahkan dengan Dewi Supraba dan enam bidadari lainnya. Oleh Dewa Indra, Arjuna diperbolehkan berbulan madu selama tujuh hari di kahyangan.

6) Kidung Sunda
Sementara itu, Kidung Sunda adalah karya sastra buatan Jawa Tengah berbentuk puisi (kidung). Isinya menceritakan lamaran Hayam Wuruk kepada puteri Raja Sunda-Pajajaran (Sri Baduga Maharaja), bernama Dyah Pitaloka. Hayam Wuruk mengirim utusan bernama Madhu yang berlayar selama 6 hari. Surat lamaran itu diterima oleh Raja Sunda dengan senang hati, meski sang puteri menerimanya biasa-biasa saja. Kemudian Raja Sunda beserta puteri dan keluarga berangkat menuju Majapahit bersama rombongan, dipimpin oleh Patih Anepaken. Sampai di Desa Bubat, mereka beristirahat; akuwu Bubat melaporkan kedatangan tamu itu ke istana. Namun, Gajah Mada tak senang bila rajanya menyambut rombongan Sunda, ia ingin agar Raja Sundalah yang menghampiri Hayam Wuruk. Mendengar keputusan Gajah Mada tersebut, Patih Anekapen marah karena Kerajaan Sunda dilecehkan Majapahit.

Terjadilah peperangan di Desa Bubat pada tahun 1357 M. Bersama 300 tentaranya, Patih Anekapen berjuang mati-matian melawan tentara Majapahit yang jumlahnya lebih besar. Semua rombongan, termasuk Raja dan Puteri Sunda, tewas, kecuali seorang menteri Sunda bernama Pitar. Ia berhasil meloloskan diri dan pergi ke Majapahit memberitahukan tragedi Bubat. Hayam Wuruk sangat terpukul jiwanya.

7) Sutasoma
Kitab lainnya, Sutasoma karya Mpu Tantular, berbahasa Kawi, diperkirakan ditulis pada masa Hayam Wuruk. Dalam kitab ini dikisahkan bahwa Sang Buddha menitis sebagai Raden Sutasoma putera Prabu Mahaketu, Raja Hastina. Sutasoma merupakan penganut Mahayana yang saleh. Karena tak ingin dipaksa kawin, ia kabur dari istana. Dalam pelariannya menuju Gunung Himalaya, ia berhenti di sebuah candi di dalam hutan dan memutuskan untuk bertapa. Para pendeta di sekitarnya kemudian mengadu kepada Sutasoma bahwa ada raja raksasa bernama Purusada yang selalu mengganggu mereka. Namun Sutasoma menolak untuk membunuh raksasa tersebut.

Selanjutnya Sutasoma melihat seekor harimau hendak memakan anaknya sendiri. Ia lalu menawarkan diri untuk menggantikan anak harimau. Alhasil, Sutasoma mati dimakan harimau, namun kemudian hidup kembali berkat pertolongan Batara Indra. Lalu Sutasoma, menjelma menjadi Buddha Wairocana. Ketika hendak pulang ke Hastina, ia melihat saudara sepupunya, Prabu Dasabahu dikejar-kejar pasukan raksasa Purusada. Singkat cerita, Sutasoma menjadi raja di Hastina.

Sementara itu, Purusada yang berjanji akan mengirimkan 100 orang raja kepada Batara Kala untuk dimakan, telah berhasil menawan 99 orang raja. Batara Kala telah berjanji bahwa bila keinginannya terkabulmaka luka di kaki Purusada akan diobati olehya. Setelah tawanan berjumlah genap 100 orang, Batara Kala menolaknya karena ia ingin memakan daging Sutasoma. Sutasoma kemudian menyanggupi permintaan Kala dengan syarat agar ke-100 tawanan dibebaskan semuanya. Pengorbanannya ini menimbulkan rasa haru dalam diri Batara Kala dan Purusada. Sejak saat itu, Purusada bertobat dan berjanji tidak akan menangkap manusia lagi.

Kisah Sutasoma menjelaskan nilai pengorbanan dan belas kasih antarsesama yang sepatutnya dijalankan oleh seorang Boddhisattva guna mencapai kesempurnaan sejati yang menjadi ciri ajaran Mahayana. Oleh karena itu, Mpu Tantular membuat ajaran Siwa dan Buddha menjadi satu (tunggal), seperti terungkap dalam kalimat: “Hyang Buddha tanpahi Siwa rajadewa…, mangka Jinatwa lawan Siwatatwa tunggal, bhinneka tunggal ika tanhana  dharmma mangrwa,” yang artinya adalah “Hyang Buddha tak ada bedanya dengan Siwa, raja para dewa…., karena hakikat Jina (Buddha) dan Siwa adalah satu, berbeda-beda namun satu, tiada kebenaran bermuka dua.”

8) Kesusastraan Melayu Kuno Masa Hindu-Buddha
Selain Jawa, kesusastraan Melayu bercorak Hindu-Buddha pun berkembang—meski tidak secepat di Jawa. Tema-temanya pun tak jauh berbeda dengan yang berkembang di Jawa: seputar dunia pewayangan. Kitab-kitab saduran tersebut di antaranya: Hikayat Seri Rama (saduran dari Ramayana); Hikayat Pandawa, Hikayat Pandawa Panca Kelima, Hikayat Pandawa Jawa (semuanya saduran dari epos Mahabharata), serta Hikayat Sang Boma. Namun, para ahli masih berselisih paham: apakah kisah-kisah tersebut disadur langsung dari India atau dari kakawin-kakawin Jawa yang dialhihbahasakan atau diparafrasakan ke dalam bahasa Melayu?

Selain kisah pewayangan, adapula kisah-kisah panji Jawa yang dimelayukan, contohnya Hikayat Panji Kuda Semirang, Hikayat Cekel Weneng Pati, Hikayat Misa Gumitar, Carita Wayang Kinudang, Surat Gambuh, Raden Saputra. Pengalihbahasaan ini mungkin terjadi ketika ekspedisi Pamalayu yang dilancarkan Singasari ke daerah Melayu, di mana Singasari sebagai penguasa memberikan pengaruh budaya terhadap wilayah jajahannya. Adapula sejumlah hikayat yang oleh Winstedt dan Chmabert-Loir dimasukkan ke dalam periode Hindu, di antaranya Hikayat Maharaja Puspa Wiraja, Hikayat Parang Putting, Hikayat Inderaputera, Hikayat Langlang Buana, Hikayat Marakarma atau Hikayat Si Miskin, dan
Hikayat Dewa Madu.

Sebenarnya, sebelum pengaruh Hindu-Buddha masuk, di Melayu telah lahir kesusastraan tutur yang bersifat legenda dan mitos, contohnya: Si Kelembai, Harimau Jadian, Gerhana Bulan, Cerita Nakhoda Ragam, Cerita Si Kantan, dan lain-lain.

0 komentar:

Post a Comment